Menuju Lembang lewat Cigending, Ujung Berung

Pernah ke Lembang kan ? mungkin bagi teman – teman yang pernah ke Lembang, pasti akan lewat jalur setiabudhi kalau dari arah Bandung. Nah kalau misalnya lewat jalur lain ? ada ga yah ?. Saya coba cari jalur lain menggunakan Google Maps untuk ke Lembang selain melewati jalan Setiabudhi. Dan akhirnya menemukan sebuah jalur yang cukup panjang. Jalur tersebut terbentang dari Ujung Berung menuju Lembang.  Saya bersama teman saya, Ricki Iqbal dan  Abdun Wijaya yang keduanya merupakan teman sekelas saya di Ilmu Komputer UPI, mengawali perjalanan kami melewati Pasar Ujung Berung kemudian menyusuri jalan Cigending. Jalan dari Pasar Ujung Berung masih bagus, jalannya ada yang dibeton dan di aspal. Kemudian saat menuju desa selanjutnya jalan mulai berbatu.

Photo2688

Photo2684

Photo2684

Beberapa tempat yang dilewati di di bagian pertama ini sebelum menuju Bukit Tunggul adalah, Gadog,  Cipanjalu, Pasirwangi, dan Palalangon. Desa yang dilewati memiliki bangunan – bangunan rumah panggung. Pemandangan di sepanjang jalur ini pun sangat memukau.  Ada hutan pinus, terasering, pohon kina, dan pohon lain yang tidak saya ketahui jenis pohonnya. Penduduk ditempat yang kami lewati ini mempunyai mata pencaharian sebagai petani, pengolah hasil hutan, peternak, pedagang, dan ada juga yang membuka bengkel. Kami mengambil dulu beberapa foto dengan berlatar belakang hutan dan gunung 🙂

DSC_0457

Photo2692

Photo2689

DSC_0499

Photo2849

DSC_0511

Photo2856

Photo2861

Nah kami sampai di tempat yang dinamakan Wisata Bukit Tunggul. Sebelum sampai di tempat ini kami melihat petunjuk jalan  yang bertuliskan Wisata Kebun Kina. Memang di Bukit Tunggul ini terdapat pabrik pengolahan kina. Dengan tiket Rp. 5000 teman – teman bisa menikmati keindahan Curug Batu Sangkur, mempelajari Kina di Teraz Kina, melihat Situ Sangkuriang, menuju Gunung Pangparang, menuju Gunung Bukit Tunggul, dan menuju Gunung Palasari.

Photo2868

Photo2869

Photo2870

Photo2871

Kami memutuskan untuk mengunjungi dulu Curug Batu Sangkar. Akses jalan menuju tempat tersebut sangat bagus, dan sesampainya disana kami disuguhkan sebuah curug yang sudah dipugar. Di curug tersebut terdapat taman yang menghiasai curug tersebut. Terkesan tidak alami, tapi cukup membuat suasana hati tenang. Pemandangan sekitarnya jelas masih hutan dan awan yang jaraknya sangat dekat. Seperti biasa kami mengambil foto terlebih dahulu dan melanjutkan perjalanan berikutnya. Kami coba susuri jalan tanjakan ke atas dan menemukan sebuah perumahan warga. Ada juga flying fox yang tidak terurus. Setelah cukup jauh menyusuri jalan yang berbatu kami menanyakan kepada warga yang sedang membawa muatan dari arah gunung dan menanyakan apakah jalur tersebut menuju Situ Sangkuriang atau bukan. Dan ternyata kami salah jalan. Jalur tersebut menuju Gunung Pangparang dan Gunung Bukit Tunggul. Kami belum sempat kesana karena akses jalan yang tidak bagus dan waktu sudah menjeland dzuhur.

Photo2872

Photo2874

Photo2875

Photo2876

Photo2877

Akhirnya kami putar balik arah, dan segera menuju Situ Sangkuriang melewati jalur bawah. Sesampainya  disana kami menikmati pemandangan lagi yah masih hutan dan taman yang menghiasi situ tersebut. Situ Sangkuriang ini dimanfaatkan pihak perkebunan untuk menjadi turbin yang memasok sejumlah energi listrik bagi warga di kamp  – kamp perkebunan kina. Kami pun istirahat dulu di sebuah tenda di dekat situ sambil melihat pemandangan langit yang begitu ‘cekas’ dan awan pun sangat cepat bergerak. Begitu awan mendung datang kami bergegas pulang dari Bukit Tunggul.

Photo2880

Photo2882

Photo2883

Photo2884

Photo2886

Photo2889

Photo2895

Photo2896

Photo2897

Selepas kami dari Bukit Tunggul. Kami masih menyusuri jalan berbatu yang dikelilingi oleh pohon – pohon pinus. Sepanjang jalan kami melihat warga yang membawa rumput, ada juga yang membawa kina, ada juga siswa – siswi smp dan smu yang mungkin tinggal di kamp – kamp pengolahan kina. Kami melewati turunan dan sampai di sebuah desa yang dinamakan Sunten Jaya. Menurut saya desa ini cukup eksotis karena berada di lembah gunung. Rumah – rumah panggung masih banyak ditemui dan ada juga kebun – kebun organik yang ada di sekitar perumahan warga. Di sepanjang jalan desa Sunten Jaya ini jalan bagus karena sudah diaspal. Paling ada beberapa bagian jalan yang berlubang. Sebelum sampai Desa selanjutnya yaitu Cibodas, kami melihat tebing yang cukup tinggi. Kemudian saat melewati jalan Desa Cibodas. Kami melihat sebuah tugu Taman Hutan Raya Ir Haji Juanda. Menurut Ricki, tempat tersebut adalah Wisata Curug Maribaya yang bisa tembus ke Dago Pakar melewati Gua Jepang dan Goa Belanda. Kami pun tetap menyusuri jalan hingga Wangun Harja dan menuju Lembang. Sebelum menuju Lembang kami melewati jalan yang dinamakan Jalan Maribaya. Jalan tersebut menuju Lembang. Ada juga persimpangan yang menunjukan jalur untuk menuju Dago melewati Dago Giri. Tapi kami tidak lewat sana karena kami akan menuju Lembang. Kemudian kami susuri jalan Maribaya tersebut, dan sampai di persimpangan lagi yang menunjukan jalan untuk ke Dago via Punclut. Kami tetap lewati jalan utama sampai akhirnya tiba di Pasar Lembang dan kami menuju kampus kami, Universitas Pendidikan Indonesia sebagai tujuan akhir 🙂

Photo2902

Photo2903

Photo2904

Photo2905

Photo2907

Saya pikir jalur Cigending menuju Lembang ini merupakan jalur yang mempunyai potensi wisata :), bisa sebagai wisata kebun atau wisata hutan. Mungkin jika dibuka camping ground bisa juga. Jalur ini juga bisa dijadikan arena untuk jalur Motor Cross dan Mountain Bike. Jalur ini setengah jelek dan setengah bagus. Sebelum bukit tunggul jalan berbatu dan sesudahnya jalanan sudah diaspal. Wisata Bukit Tunggul pun tampaknya belum banyak pengunjung seperti wisata di Ciwalini atau di Pangalengan. Mungkin dengan promosi yang baik dan akses jalan yang bagus Wisata Bukit Tunggul bisa menjadi salah satu tempat Wisata di utara Bandung. Kemudian beberapa desa seperti Sunten Jaya dan Cibodas bisa dijadikan Eco Wisata bagi penduduk kota yang ingin melihat kehidupan desa. Oh yah di beberapa rumah di desa tersebut juga sudah menggunakan biogas dari kotoran ternak sapi sebagai energi untuk memasak :D. Hebat

Photo2909

Photo2910

Photo2911

Semoga Pemerintah Kabupaten Bandung Barat dan Kota Bandung bisa mengelola pemukiman dan hutan di sepanjang jalur ini 🙂 jangan sampai digantikan oleh pembangunan – pembangunan yang bisa merusak air bersih dan hilangnya cagar alam hehe

Iklan

11 pemikiran pada “Menuju Lembang lewat Cigending, Ujung Berung

  1. Ping balik: Menuju Lembang lewat Cigending, Ujung Berung | Jejak Kemakom

  2. saya lewat cibodas lembang kang wktu mau nyoba ke bukit tunggul,tp ternyata kta org situ masih jauh,dan akses jln sangat parah,berlumpur,jd bisa kasih tau jln alternatif lain ga kang?nuhun…

    • oh mungkin berlumpur pas di jalan gunungnya, saya kesana waktu musim panas soalnya, jadi jalanan gunung ga terlalu becek. Jalan ke bukit tunggul, memang cuma lewat cibodas soalnya ada jalan naik kesana. Paling lewat ujung berung dari cigending.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s