Curug Tersembunyi di Katumiri

Kali ini liburan selepas coding yang saya lakukan adalah mencari air terjun yang bernama Curug Penganten. Saya terpacu untuk mulai mencarinya, karena saya melihat sebuah blog yang menceritakan berbagai curug yang terdapat di Kota Bandung. Setelah googling dan menemukan sebuah artikel di Bandung Traveler, saya mulai membaca informasi tentang Curug Penganten. Curug tersebut berada di Perumahan dan Wisata Alam Katumiri, Cihanjuang, Bandung Barat. Saya sendiri sedikit mengerutkan mata, kok ada wisata alam yang harus melewati dulu komplek rumah. Tapi menurut informasinya memang seperti itulah keadaanya, kita harus melewati dulu perumahan barulah sampai di Wisata Alam Katumiri. Menurut legenda, di Curug Penganten ini ada sepasang pengantin yang terjatuh hingga meninggal dari atas hingga dasar Curug. Karena itulah disebut Curug Penganten.

Dalam pencarian Curug Penganten, saya mengajak Herdi, Andri, dan Fajar yang ketiganya merupakan adik angkatan semasa kuliah di ilmu komputer, UPI. Kebetulan mereka sedang tidak ada jadwal dan ingin berpetualang juga, jadi kami mulai menjelajah mencari Katumiri ini dari Cicarita -> Ciwaruga -> Parongpong -> Cihanjuang. Setibanya di Katumiri, memang benar ternyata kita harus melewati dulu perumahan warga Katumiri. Setelah bertanya pada Pak Satpam, kami melanjutkan perjalanan dari pintu masuk hingga lokasi Wisata Alam Katumiri. Di pintu masuk Wisata Alam, kita harus membayar tiket per orang sebesar Rp 6.000 / orang dan parkir motor Rp 1.000 per motor. Selain Curug Penganten, di Katumiri ini cukup banyak wahana yang dapat dinikmati. Ada flying fox, golf, rapelling, horsing, mini ATV, mini motor cross, jembatan pandang, dan lainnya. Ada juga cottage, saung, dan mushala yang dapat dinikmati oleh keluarga atau grup Anda jika ingin bermalam di Katumiri.

Peta Wisata Alam Katumiri

Peta Wisata Alam Katumiri

Lembah di Wisata Alam Katumiri

Lembah di Wisata Alam Katumiri

Baca lebih lanjut

Iklan

Bonus: Berkenalan dengan Naringgul dan Wisata Lainnya di Ciwidey

Karena waktu yang masih cukup luang sepulang dari Kawah Putih. Akhirnya saya tiba di pintu keluar dan memilih jalur kiri untuk menuju Naringgul. Naringgul adalah sebuah perbukitan yang akan menghantarkan Anda menuju Pantai Jayanti di Cidaun, Cianjur Selatan, Cianjur. Sebelum tiba di Naringgul, Anda akan menemui Ranca Upas dengan gerbang yang lebih fantastik. Ranca Upas adalah tempat perkemahan bagi para pecinta alam (kalau pecinta alam tidak meninggalkan sampah ketika berada di alam bebas). Anda akan juga akan menjumpai Wisata Alam Cimanggu yaitu sebuah tempat yang memiliki pemandian air panas, tempat makan, dan rekreasi lainnya. Kemudian setelahnya Anda akan menjumpai Rancabali Resort yang memiliki hamparan kebun teh, cottage, dan pemandian air panas Walini. Dan di ujung, tepatnya di Kawasan Industri Hutan Rancabali, Anda akan menjumpai Situ Patengang yang merupakan salah satu situ terbesar di Jawa Barat.

Suasana kebun teh sebelum di Naringgul

Suasana kebun teh sebelum di Naringgul

Suasana kebun teh sebelum di Naringgul

Suasana kebun teh sebelum di Naringgul

Saat Anda tiba di Rancabali, Anda akan menjumpai dua cabang jalan. Cabang kanan akan membawa Anda ke Situ Patengang. Sedangkan cabang kiri akan membawa Anda ke Naringgul. Saya memilih Naringgul, dan saya menikmati hamparan kebun teh di sepanjang perjalanan. Jalannya cukup luas untuk dua mobil. Anda akan menjumpai teletubies land yang sangat luas. Saking hijaunya hamparan kebun teh dari jarak jauh jadi sangat mirip teletubies land hehe. Disana Anda akan melihat pemukiman yang seragam. Tapi berhati – hatilah, Jalan yang luas tadi akhirnya menyempit juga. Jalan yang tersedia cukup bergelombang dan tidak terlalu muat untuk dua mobil. Jadi perlu berhati – hati.

Baca lebih lanjut

Wisata Serba Putih di Kawah Putih

Pintu masuk kawah putih

Pintu masuk kawah putih

Kawah Putih atau White Crater sudah tidak asing lagi tentunya bagi warga Bandung, apalagi yang tinggalnya di daerah Ciwidey (ya iyalah :v). Kawah Putih terletak di Gunung Patuha dengan ketinggian 2200-an mdpl berlokasi di Kota Wisata Ciwidey. Sebelum Anda masuk ke Kawah Putih Anda akan melewati Terminal Ciwidey, Pemukiman Warga Ciwidey, dan Patuha Resort (sedang dibangun saat tulisan ini diangkat). Tiket masuk saat ini jika ditotalkan sekitar Rp. 30.000an / orang untuk wisatawan domestik dan Rp. 45.000an / orang untuk wisatawan mancanegara. Mahal banget yah :D? Kita ambil rinciannya berikut:

  • tiket per orang: Rp. 17.000 (wisdom) / Rp 30.000 (wisman)
  • bayar angkutan pulang pergi: Rp 13.000
  • parkir: Rp. 5000 (motor) / Rp. 6000 (mobil)
Odong - odong di Kawah Putih

Odong – odong di Kawah Putih

Tugu Kawah Putih

Tugu Kawah Putih

Gerbang Kawah Putih

Gerbang Kawah Putih

Untuk mobil yang ingin masuk ke Kawah Putih, Anda harus membayar uang jasa lingkungan sekitar Rp. 150.000 / mobil. Sebelumnya saya pernah ke Kawah Putih dua kali. Dulu waktu SMA tiket tersebut berharga Rp. 15.000 lebih murah dibandingkan saat ini. Faktor utamanya adalah fasilitas dan manajemen yang lebih baik dari Perhutani. Dulu saat ke Kawah Putih motor dan mobil pengunjung bebas masuk ke Kawah Putih sehingga macet ataupun kehabisan parkir sering terjadi. Tapi kini pengunjung harus memarkir motor / mobil dibawah (pintu masuk) dan menaiki kendaraan wisata yang disediakan pihak pengelola. Ketika Anda akan naik angkutan, Anda akan diberikan tiket (mirip tiket busway) yang akan dimasukkan ke mesin pengecek tiket. Jika Anda valid, Anda diperbolehkan untuk naik kendaraan wisata. Jarak yang ditempuh dari pintu masuk ke Kawah Putih sekitar 5 KM. Dulu waktu SMA saya berjalan kaki dari bawah karena motor teman saya mogok, pantesan kaki saya leklok haha.

Baca lebih lanjut

Berjelajah di Oray Tapa

Di masa libur lebaran Juli 2014 kemarin, saya dan kakak menyempatkan diri untuk menjelajah sebuah tempat liburan yang bernama Oray Tapa. Tak banyak yang tahu mengenai keberadaan tempat ini. Bahkan di Google Maps pun sulit ditemukan. Di media online maupun televisi belum pernah saya menemukan Wanawisata Oray Tapa ini. Saya menemukan Oray Tapa ini karena sebuah ketidaksengajaan setelah pulang makan ramen dari suatu tempat ramen kesohor di Bandung. Oray Tapa dapat diakses lewat jalan Sindanglaya, Bandung. Oray Tapa masuk ke daerah kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.

 Lapangan dekat Oray Tapa

Lapangan dekat Oray Tapa

 Lapangan dekat Oray Tapa

Lapangan dekat Oray Tapa

 Lapangan dekat Oray Tapa

Lapangan dekat Oray Tapa

Sebelum ke Oray Tapa, saya dan kakak mencoba mengambil foto pemandangan Bandung Timur dari sebuah lapangan yang ada sebelum Oray Tapa. Tempat ini cukup luas dan biasa digunakan muda – mudi untuk melakukan you know what they gonna do in the night yah karena lapangan ini bisa dibilang belum ada penjagannya. Dari tempat ini Anda dapat mengambil foto seolah – olah sedang terbang karena horison dari ujung lapangan dapat membuatnya seolah – olah Anda sedang diatas awan. Selesai berfoto – foto di lapangan tersebut kami lanjutkan ke Oray Tapa.

Baca lebih lanjut

Perjalanan Menuju Bukit Moko, Cimenyan

Saya sendiri awalnya tahu mengenai Bukit Moko itu dari sebuah acara bernama “Jalan – Jalan Men”. Sebuah bukit yang cukup tinggi dengan ketinggian sekitar 1500 mdpl, dan kita bisa melihat kota bandung hampir seluruhnya dari bukit tersebut. Bukit Moko ini terdapat di Cimenyan. Bukit Moko sendiri merupakan tempat terakhir yang bisa digunakan untuk bersantai di kawasan tersebut setelah Dapur Cartil dan Deretan Warung yang ada di Cimenyan.

Untuk mencapai bukit tersebut, Anda harus masuk lewat jalan Padasuka. Di jalan Padasuka terdapat juga sebuah area wisata terkenal yaitu, Saung Angklung Udjo. Anda bisa berkunjung kesana juga jika ingin menikmati angklung dan kesenian lainnya yang disediakan oleh Saung Angklung Udjo. Kemudian telusuri jalan tersebut hingga menemukan Polsek Cimenyan di sekitar KM 4 ~ 5.

Setelah melewati Saung Angklung Udjo, Anda akan melewati Akademi Analis Kesahatan Bakti Asih. Setelah melewati tempat tersebut, Polsek Cimenyan ini adalah checkpoint yang harus dilewati, kemudian disusul dengan gerbang batas Kabupaten Bandung dan Kota Bandung. Andapun akan melewati sebuah villa yang menandakan bahwa Anda sudah berada di KM 8. Dari tempat tersebut Anda akan melihat sebuah tanjakan yang memiliki tikungan cukup tajam dan tidak ada pembatas, jadi mesti ekstra hati – hati ketika akan melewati jalan tersebut. Karena ketika kedua kalinya pergi kesana motor saya sempat mogok saat melewati tikungan dan harus mendorongnya sendiri.

Baca lebih lanjut

Wisata Gunung Puntang, Menikmati Indahnya Alam Sebelum Pangalengan

Pada tanggal 26 Agustus 2013, saya dan teman teman semasa SMA berencana untuk mencari bunga dan mencoba memotretnya. Perjalanan dimulai dari rumah teman saya yang tinggal di Munjul, Baleendah. Jam 15.00 setelah shalat ashar kami berangkat menuju Wisata Gunung Puntang. Dari Baleendah kami menelusuri jalan hingga banjaran, dan sepanjang jalan terdapat barisan pasir (gunung kecil) yang terbentang. Sesampainya di Banjaran ada dua ruas jalan, jika lurus akan menuju Ciwidey melewati Soreang. Sedangkan jika belok kiri akan menuju Pangalengan.

Untuk menuju puntang sendiri kita harus mengikuti jalan menuju pangalengan ini hingga ada ruas jalan. Jika ke kanan nanti ke pangalengan sedangkan ke kiri akan menuju puntang. Setibanya di ruas jalan tersebut, kami belok kiri untuk menuju Puntang. Jalan menuju Puntang tersebut sangat bagus sekali, jalanan diaspal dan tampaknya sangat terjaga, dan hamparan sawah terasering rapi sekali membentang di sepanjang jalan. Jalan untuk menuju Puntang itu ditempuh sekitar 8 km. Hampir setara dengan perjalanan menuju Bukit Moko. Hanya saja jalan menuju Bukit Moko tidak sebagus jalan menuju Puntang.

Kami pun tiba di gerbang menuju Wisata Gunung Puntang. Sebelum ke gerbang tersebut ada wisata lain yang bisa Anda kunjungi. Tempat tersebut dinamakan dengan Taman Bougenville. Sebelumnya saya sudah pernah mengunjungi tempat tersebut, didalamnya terdapat kolam renang, villa, kolam ikan, dan sungai. Tiket yang diperlukan sekitar 15.000 Rupiah. Harga tiket tersebut sama dengan masuk ke Gunung Puntang. Tapi setelah masuk gerbang, Anda harus menempuh jalan lagi sekitar 3 km dengan melewati jalan yang berbatu. Tapi suasana sepanjang jalan memang sangat menenangkan karena dikelilingi oleh pohon – pohon tinggi seperti pinus dan tumbuhan paku.

IMG_6943

Baca lebih lanjut

Adopsi Pohon di Gedung Ilmu Komputer

Adopsi pohon, mungkin agak aneh yah istilahnya. Apa sama dengan adopsi anak ? Hehe:D. Saya sendiri mengenal hal tersebut ketika membaca sebuah flyer yang ditempel di papan pengumuman di gedung ilmu komputer. Adopsi pohon ini selain  menanam pohonnya kita beri nama juga pohonnya, kemudian terus diawasi pohon tersebut sampai tumbuh besar. Perawatannya bisa saja dititipkan kepada seseorang misal pengurus taman. Kemudian saya membaca bagaimana adopsi pohon itu dilakukan, dan ada sedikit sejarah tentang siliwangi. Dan diakhir flyer ada contact person kepada teman saya sendiri, Trimans Yogiana.

Lalu saya hubungi Trimans, dan bertanya soal adopsi pohon lebih lanjut. Karena Trimans sedang berada di kampus juga, kami merencanakan untuk membeli bibit pohon. Tapi rasanya kalau cuma berdua agak sepi. Jadi saya ajak juga teman saya, Ricki Iqbal, untuk ikut membeli bibit. Tapi Ricki cuma menitipkan saja uangnya, karena sedang mengerjakan tugas kuliah.

Lantas kami pergi ke daerah Cihideung, sebuah daerah perbukitan sebelum Parongpong yang masuk lewat jalan Sersan Bajuri. Kami mengunjungi beberapa toko bibit tanaman untuk mencari pohon yang akan kami adopsi. Setelah mencari – cari, kami dapat sebuah bibit pohon mangga yang berharga sekitar Rp. 25.000 . Kami beli tiga dan kembali lagi ke gedung ilmu komputer.

Sesampainya di gedung ilmu komputer, kami mencari Pak Engkus, yang berwenang perihal gedung dan tamannya, dan menceritakan maksud kami ingin mengadopsi pohon ini. Beliaupun ikut membantu dan menanam pohon tersebut di tiga titik. Pohon tersebut di tanam di pinggir gedung sebelah kanan, di depan gedung pojok kanan, dan di depan gedung pojok kiri.

Saat pertama kali ditanam batang pohon masih kecil, sekarang batang pohon tersebut sudah agak membesar. Butuh waktu yang cukup lama untuk sampai pohon tersebut bisa menghasilkan buah hehe. Dengan demikian gedung tempat kuliah kami yang agak kurang pohon mungkin beberepa tahun kedepan kami bisa melihat pohon tersebut sudah berbuah. Berikut ini adalah pohon – pohon yang kami adopsi :

– pohon adopsinya Ricki

IMG_8019
– pohon adopsinya Trimans

 

IMG_8036
– pohon adopsi saya 😀

IMG_8037

Semoga teman – teman bisa ikut juga mengadopsi pohon, paling tidak disekitar rumahnya masing – masing atau ditempatnya kuliah. Kecuali kalau tempat kuliahnya sudah tidak ada tanah dan tertutup paving block 😀 hehe.